![]() |
| GELAR HAJI SUDAH ADA DI ZAMAN DINASTI ABASIYYAH – TURKI |
Benarkah gelar Haji hanya dikenal di Nusantara atas inisiatif Londo untuk mengawasi orang islam. Apa bener begitu?
Gelar haji ternyata digunakan sejak jaman Dinasti Abasiyyah, di Turki, semenjak jaman Turki Seljuk, hingga jaman Kalkun Otoman. Di Nusantara khususnya di Jawa Barat, Pangeran Bratalegawa dikenal dg nama Haji Purwa, dipanggil begitu karena dikenal sebagai orang Jawa pertama yang naik haji, Pangeran Bratalegawa adalah anak dari Prabu Borosngora, Raja Pajajaran pertama yang muslim pada Abad ke 13 Masehi.
Beberapa generasi kemudian Prabu Siliwangi pun berangkat haji saat masih menjadi putra mahkota dan pada saat dinobatkan diberi gelarnyanya pun masih menyandang Haji yaitu Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Siliwangi seperti yang tertulis di bacaan Prasasti Batutulis Bogor, yang sejalan dengan maksud dari naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4. Kandungan naskah tersebut berisi, sebagai berikut :
Raja Pajajaran Winastatwan ngaran Prabhuguru Dewataprana muwah winastwan ngaran Sri Baduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata putra ning Rahyang Dewa Niskala. Rahyang Dewa Niskala putra ning Rahyang Niskala Wastu Kancana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra Ning Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.
Pada masa sesudah itu, hanya yang memang yang sangat kaya dan berilmu bisa naik haji, dan untuk bisa pergi haji memerlukan perjuangan yang luar biasa hingga bertaruh nyawa, Karenanya penyandang gelar Haji derajatnya naik hingga seorang yang menyandang gelar haji boleh menikahi putri bangsawan.
Dan ternyata adanya pengkaburan ini sejarah sekarang ini berasal dari sekte yang sama dengan sekte yang dianut oleh ISIS yang selalu alergi dengan sejarah Islam yang melawan tuan mereka imperialis.
Jika lihat situasi dulu penyandangan gelar Haji intinya bukan di pelaksanaan rukunnya, tetapi dari keilmuannya, jaman dulu punya gelar Haji sudah bisa dipastikan ulama. Gelar haji menunjukan keulamaannya. Dan jumlahnya pun sangat sedikit dan biayanya luar biasa mahal, hanya yang berharta saja yg bisa naik haji. Dari Nusantara perjalanan Haji bisa bertahun-tahun dan selama di perjalanan sambil mengaji, kalau lewat jalan laut pasti via malabar, jika terjadi badai berhenti disitu menunggu badai reda, menantinya sudah pasti di suatu pesantren, sambil menunggu dilanjutkan memperdalam agama. yg mungkin masa menunggunya bisa bertahun-tahun juga, lalu melanjutkan perjalanan dengan resiko dihadang bajak laut, sesampai di pelabuhan melanjutkan perjalan darat ke Mekkah yang penuh rampok dari Arab Baduy. Sesudah sampai di mekkah ternyata bulan haji sudah lewat, utk balik lagi sayang akhirnya menunggu dan mukim di sana selama setahun atau lebih yg tentu saja sambil berguru disana selesai haji ilmunya melebihi lulusan IAIN dan karena waktu itu belum ada gelar Doktorandus maka gelar Haji lah yang dipakai. Di jaman Belanda untuk memperkecil jumlah Haji, bagi yang akan naik Haji harus di test dulu. Artinya hanya yang ilmunya cukup yang bisa naik haji.
Mereka memakai dalil gelar haji adalah bid’ah dan hasil dari Belanda katanya. Ketahuilah India, Pakistan, Bangladesh, afghanistan dan sekitar daerah itu juga menggunakan istilah haji. Dalam berbagai kitab yang menerangkan tentang biografi seorang imam atau lainnya… mesti tercantum nama lengkap kemudian diterangkan pula bahwa yang bersangkutan telah berhaji berapa kali….. cuma bedanya indo gelar haji berada di awal nama, timur tengah gelar haji diletakan diakhir nama lengkap.
Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan SULTAN HAJI.
Wallahu a’lam


0 Response to "GELAR HAJI SUDAH ADA DI ZAMAN DINASTI ABASIYYAH – TURKI"
Posting Komentar