![]() |
| NADZARNYA UMAR BIN KHOTOB SEBAGAI BUKTI PEMIMPIN ADALAH PELAYAN UMAT |
Pada tahun 17 Hijriyah, di masa kekhilafahan Umar Bin Khotob, terjadi paceklik. Hujan tidak turun-turun dan sering terjadi badai pasir. Ternak-ternak mati, pohon-pohon tidak berbuah.
Anas berkata: Perut Umar berbunyi (karena lapar) sebab banyak makan minyak pada masa paceklik. Dan dia bernadzar, mengharamkan atas dirinya untuk makan mentega. Yang dia makan hanya roti dan minyak zaitun. Dia menekan perutnya dengan jemarinya. Dia berkata, “Sesungguhnya kami tidak memiliki harta lain yang bisa dimakan hingga manusia bisa hidup dengannya.” (Tariqh Khulafa).
Kondisi paceklik membuat persediaan Baitul Mal menipis. Umar sudah lama tidak makan dari harta di Baitul Mal. Umar pun meminta ijin pada Ali bin abi Tholib untuk mengambil harta di Baitul Mal. Dan Ali mengijinkan untuk mengambil makanan untuk makan siang dan malam.
Suatu ketika Umar menyembelih untanya. Lalu disajikan untuknya daging punuk dan hati, lalu Umar menolaknya dan berkata “aku telah bersumpah hanya makan roti dan gandum sampai rakyatku selamat. Bagaimana mungkin aku makan makanan enak sementara rakyat makan tak enak.” Sungguh ketakutan pada Allah Swt sangat besar pada diri Amirul Mukminin.
Lalu Amirul Mukminin Ummar bin Khotob menulis surat kepada Amr bin ‘Ash yang kala itu manjadi Gubernur di Palestina untuk meminta bantuan. Juga surat yang sama pada gubernur Syria, Iraq, Persia, Makkah, Hizaj dan wilayah Khilafah Islam lainnya. Maka berdatanganlah bantuan. Ribuan unta yang membawa bahan makanan. Lalu Umar melaksanakan sholat Istisqo. Dan hujan pun turun.
Tak lekang oleh waktu. Begitulah ungkapan yang baik dari kisah-kisah tauladan Rosulullah juga para sahabatnya. Setiap sisi kehidupan dikendalikan oleh aturan Sang Khalik. Taqorrub dan kesadaran akan keterhubungan dirinya dengan Allah Swt sangatlah besar.
Dalam posisi pemimpin kaum muslimin. Umar senantiasa hati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan. Atas segala problematika hidup yang ada. Mengutamakan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan pribadi atau golongan. Memerintah rakyat dikendalikan aturan Allah Swt dan Rosulullah Saw. Namun, bisa kita saksikan sekarang di era Kapitalisme Demokrasi, kepemimpinan hanya kesempatan untuk kebanggaan kekuasaan dan memenuhu kepuasan pribadi. Mereka mengkoleksi mobil mewah, motor yang harganya selangit, kuliner enak. Sementara rakyat sulit mengatur uang karena harga kebutuhan pokok mahal. Sungguh ironi sekali. Dan di Januari 2018 ini Papua berduka. Menampar penguasa. Di tanah yang kaya emas mereka mengalami gizi buruk dan terkena wabah campak. Link: http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/01/28/p394mu354-dpd-harap-gizi-buruk-di-asmat-tak-terulang-lagi
Ini adalah akibat dari pengurusan sistemik yang kurang merata. Akses infrastruktur di daerah luar jawa belum maksimal. Konsentrasi nampak di media hanya untuk urusan partai. Perputaran uang hanya untuk kepentingan perebutan posisi kekuasaan. Seseorang akan berani mengeluarkan uang besar untuk mahar politik. Dan setelah terpilih mereka melupakan hak-hak rakyat. Janji amanah diabaikan. Lupa bahwa pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dengan hukum apa ia menjalankan roda pemerintahannya. Apakah dikendalikan hukum Allah dan Rosulullah yang hak (benar) atau dengan hukum buatan manusia yang bathil. Atau campuran antara hak dan bathil. Padahal Allah telah melarang hal itu. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَـقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَـقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 42)
Allah SWT berfirman:
اَفَحُكْمَ الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 50)
Allah menciptakan manusia berikut aturan-Nya yang harus dijalankan dalam kehidupan ini. Namun kadang manusia sombong. Tak mau memakai hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Menapikan kebenaran yang datang dari Allah Swt dan Rosulullah Saw. Mengingkari Allah Swt sebagai pembuat aturan hidup.
Berbeda dengan sistem Islam yang di bangun Rosulullah yaitu ke-Khilafahan. Perkara pemilihan Khilafah melalui mekanisme yang mudah tanpa merogoh uang sedikitpun dan Khalifah yang terpilih semisal Umar bin Khotob malah berlomba menginfakan harta dan rela berlapar-lapar sebelum rakyatnya terpenuhi kebutuhan perutnya. Melangsungkan kehidupan Islam dibimbing aturan Islam.
Semoga kisah ke-Khalifahan Umar bin Khotob mampu menginspirasi para pemimpin negeri manapun. Tanggung jawab yang besar ada di pundak pemimpin. Segala bentuk pengurusan dan maksiyat serta kesusahan yang ditimbulkan dari pengurusan kurang baik akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Ingatlah pemimpin adalah perisai ummat. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis. Nabi Muhammad Saw bersabda :
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).
Semoga sepenggal kisah diatas mampu memberikan gambaran, bahwa Islam telah menorehkan kejayaan dengan pemimpin yang adil. Dunia tidak melenakannya. Para Khilafah sangat memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Dalam Islam Pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan sebaliknya. Khilafah berusaha memenuhi kebutuhan rakyatnya. Terutama kaum yang lemah. Selalu bermusyawarah dalam hal yang penting yang berkaitan dengan pemenuhan hajat hidup dan keterikatan pada syariah Islam. Dan pemimpin dambaan ummat hanya akan terwujud dalam sistem yang menerapkan aturan Islam yakni Khilafah. Kepemimpinan yang dikendalikan oleh aturan Ilahi. Wallohualam bisshowab.


0 Response to "NADZARNYA UMAR BIN KHOTOB SEBAGAI BUKTI PEMIMPIN ADALAH PELAYAN UMAT"
Posting Komentar